Disain adalah sebuah proses. Tidak bisa berhenti pada satu titik yang di sebut PUAS lalu selesai. Namun menggali dan terus menggali. Menyelaraskan dengan Kecenderungan Jaman yang sedang berlangsung, menyelaraskan misi dan visi dari “suara” yang ingin diwakili. Karena disain sejatinya adalah seni berkomunikasi dengan cara yang lebih esteti. Kompilasi antara Misi bersuara, kaidah kelayakan, sentuhan ‘jiwa’ seni dengan harapan akhir “Suara” yang ingin diwakili tersampai dengan lebih indah dan ‘memikat'
(Wong Takapushi ; Kitab Tukang Disain' Bab I, ayat 1, juncto Bab V Pasal 8998 b)
Namun terlepas dari itu, sebuah karya disain melewati proses yang tidak datar-datar saja, mesti memeras otak, menunggu ilham jatuh gedubrak di atas meja.. bertarung dengan mood, yang kadang ngadat, menghabiskan bergelas-gelas kopi, berbatang-batang sigaret. Berkelok-kelok zig-zag di antara banyak rambu yang dipasang oleh pemberi order, penerima order, supervisor dan paling ujung bagian produksi. Di sinilah sebenarnya jalanan sering terjal melelahkan dan kadang (sumpah) menyakitkan.
Hyperbolic ? may be.. tapi hal ini kerap terjadi, hanya kadarnya saja yang berbeda, dan tentu saja tingkat kedalaman idealisme, menjadi ukuran seberapa kental kadar ‘konflik’ seperti ini.Tak jarang saya termenung, di depan monitor, saat Big Bos bilang “itu warnanya jangan hijau !!! ndak sinkrun…, ganti merah !!!” Of course selarik puisi Big Boss adalah sebuku Undang-undang yang mengikat. Lenyap sudah sususan rapi deskripsi latar belakang, filosofi, bla…blaa..blaa yang dirangkai berjam-jam tadi.
Hanya sisi kecil, dari balik meja disain.. yang kadang membuat saya tidak lagi kerasan menduduki ‘singgasana’ yang dulu diimpikan penuh kebanggaan… Yah mungkin seorang disainer, harus terlebih dulu belajar mendisain idealisme, kadar kompromi, kekebalan terhadap perintah tanpa argumen.. sambil tetap menjaga kadar seni, estetika, dan ‘ciri khas’, … yah seorang disainer meski kelas pemula sekalipun pasti sudah tersemat gaya dasar.. yang kemudian beranjak menjadi ideologinya.
Sebuah tanya yang kerap menggoda, Dimana sebaiknya kuletakkan “gairah berkarya” ini, di lemari hobi yang di buka sesekali, atau dietalase toko?. Menjadikan hobi sebagai sebuah pekerjaan, ternyata tak semudah yang ku duga

0 comments:
Post a Comment
terima kasih atas kunjungannya